18th November 2019

Gunem, Desa Ramah Anak

Akhir Juni lalu Rumah Faye mendapat kesempatan yang sangat berharga untuk mengikuti kunjungan ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak – Yohanna Yembise, di desa Gunem Kab. Rembang. Kunjungan ini adalah dalam rangka melihat praktek Desa Ramah Anak secara langsung.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam untuk sampai di kota Rembang, kami disambut oleh pak Bupati di kantor Kabupaten Rembang. Kota di tepian pantai yang memiliki sejarah kental tentang perjuangan perempuan itu terasa sangat menyengat, tetapi semangat orang-orang yang berada di sekeliling kita untuk berbagi informasi tentang bagaimana lingkungan ramah anak dibentuk, membuat panasnya kota Rembang jadi terbayarkan.

Dari kantor Kabupaten, kami masih harus menempuh 20 km perjalanan ke arah Selatan, menuju desa Gunem. Jalanan yang kami lalui cukup sempit. Jika ada dua kendaraan roda empat yang berpapasan, salah satunya harus mengalah ke tepi dulu. Apalagi saat ini kabarnya ada rencana pembangunan pabrik semen di sekitaran Gunem, yang membuat jalanan jadi semakin rusak karena kendaraan berat lalu lalang di jalanan tersebut.

Di Desa Gunem kami diterima di kantor Kepala Desa. Ibu-ibu, anak-anak serta para pengurus desa sudah siap menyambut kami. Mereka sangat senang karena inilah kali pertama seorang menteri mengunjungi mereka dan sejak awal ibu Menteri sudah mengatakan bahwa kunjungannya ke desa Gunem adalah untuk belajar. Tentu saja mereka sangat bangga.

Ini dia beberapa praktek desa ramah anak ala desa Gunem, kab. Rembang:

Komite Perlindungan Anak Desa (KPAD) yang berfungsi

KPAD di desa Gunem benar-benar melaksanakan tugas mereka sebagai komite pelindung. Mereka awalnya terdiri atas para guru yang kemudian meluas menjadi tidak terbatas pada guru-guru saja. Tugas mereka adalah mengenali permasalahan berkaitan dengan anak apa saja yang terjadi di desa.

Melibatkan anak-anak di dalam setiap kegiatan

Anak-anak di desa Gunem, walaupun saat ini masih perwakilannya saja, selalu diikutkan di dalam setiap rapat yang ada di desa. Hal ini bertujuan untuk membuat suara anak didengar, permasalahan anak menjadi permasalahan semua orang, dan yang lebih penting adalah, para pengambil keputusan mengenali dan terbiasa dengan keberadaan anak di sekitar mereka.

Share On

Other News

View All

31st January 2020

Sexist Teachers? The Condition of Indonesian Teachers
Read More

27th January 2020

Creative Class
Read More

23rd January 2020

Ethically Reporting Cases of Sexual Violence
Read More