18th November 2019

Anak Bukan Aset

Tanggal 12 Juni diperingati sebagai hari Pekerja Anak. Beberapa organisasi memperingatinya dengan melakukan aksi kampanye di beberapa kota pada tanggal 14 Juni lalu. Suara yang diteriakkan adalah untuk menghentikan mempekerjakan anak, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan eksploitatif. Diantaranya adalah sebagai pekerja rumah tangga. Saat ini jumlah anak yang menjadi pekerja rumah tangga di Indonesia ini terhitung cukup banyak. Mari kita tengok di dalam rumah kita dan rumah orang-orang yang kita kenal. Seberapa sering kita mendengar bahwa usia pekerja rumah tangganya masih di bawah 18 tahun. Anak yang dieksploitasi untuk bekerja di luar negeri juga nyaris serupa kondisinya. Usia mereka dipalsukan agar tidak terkena masalah hukum. Padahal mempekerjakan resikonya sangat besar, berkaitan dengan kesehatan, kematangan dan masa depan anak.

Jika merujuk pada pada lembar fakta UNHCR 2012, di dunia ini ada 1,2 anak yang diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar mereka diperdagangkan untuk keperluan seksual komersial. Sementara menurut data UNICEF, meskipun di Indonesia sekalipun banyak gadis yang memalsukan umurnya, diperkirakan 30 persen pekerja seks komersil wanita berumur kurang dari 18 tahun. Bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula ada 40.000-70.000 anak menjadi korban eksploitasi seks dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan tiap tahun.

Maka dengan melihat lembar fakta tersebut, bunyi kampanye tanggal 14 lalu sangat relevan, ORANG TUA BEKERJA, ANAK BELAJAR! Setiap anak seharusnya mengenyam pendidikan dan adalah tugas orangtua untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan sebaliknya, anak yang dipaksa untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga, atas nama bakti dan balas budi pada orangtua.

Budaya menganggap anak sebagai aset yang harus membalas budi pada orang tua dapat berwujud dalam berbagai hal, seperti menganggap anak sebagai properti atau hak milik, sehingga orangtua bebas untuk melakukan apapun terhadap anak, lingkungan sendiri juga merasa bahwa mengintervensi cara mendidik orangtua yang tidak benar menjadi tidak relevan, maka kekerasan terhadap anak di dalam rumah sendiri tidak terhindarkan, dan yang terburuk adalah menjual anak-anak sendiri. Pada prakteknya, anak dapat dijual untuk dipekerjakan pada jenis-jenis pekerjaan terburuk untuk anak, seperti pornografi dan pelacuran.

Mungkin untuk orang dewasa, prostitusi atau pornografi (di negara-negara tertentu) merupakan pekerjaan legal, tetapi kami tidak bersepakat bahwa prostitusi dan pornografi dapat disebut pekerjaan untuk anak. Kondisi anak yang dilacurkan tidak dapat dianggap sama seperti pelacuran pada orang dewasa. Pada anak, ketika mereka dilacurkan adalah murni eksploitasi. Tidak ada anak yang dapat memberikan izin tubuhnya untuk dieksploitasi secara seksual. Bahkan ketika mereka “dengan kemauan sendiri” sekalipun, maka orang yang harus dianggap sebagai pengeksploitasinya atau trafikernya adalah pelaku pembeli seks pada anak tersebut.

Dalam penelitian partisipatori yang dilakukan oleh UNICEF, ditemukan bahkan banyak orangtua yang tega menjual anak mereka untuk kepentingan materialistis, seperti membeli motor, TV, parabola atau renovasi rumah. Mungkin tidak terbayangkan di kepala kita, tetapi hal tersebut terjadi dan masih terus berlangsung sampai saat ini. UU Perlindungan Anak dan UU Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang mungkin tidak pernah sampai ke telinga orang tua dan trafiker yang tega melakukan hal tersebut, atau karena mereka tahu bahwa dengan mudah hukum bisa dibeli. Rendahnya pidana yang diberikan pada pelaku perdagangan manusia membuat orang tidak jera untuk melakukan kejahatan ini. Ditambah lagi terbatasnya akses untuk mendapatkan penghasilan dan penghidupan yang layak di kampung halaman, membuat orangtua rela melakukan apa saja demi kelangsungan hidup keluarganya. Banyak orangtua yang merelakan satu anaknya menjadi tumbal dan sekaligus tambang penghasilan untuk anggota keluarga yang lain.

Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar dan lebih banyak tangan untuk turun menghentikan praktek menjual anak dan mempekerjakannya. Kesadaran bahwa anak bukanlah aset, bahwa anak adalah manusia yang terlahir dengan hak-hak yang melekat pada mereka, adalah mahluk yang memiliki resiko dan kerentanan karena belum dewasa dan fisik mereka yang belum sempurna, harus terus ditanamkan pada setiap orang dewasa. Lalu dari mana kita memulainya? Tentu saja dari rumah kita sendiri. Pastikan anak-anak terdekat dengan kita, tidak dieksploitasi, dipekerjakan, dan pastikan bahwa suara mereka didengar dan hak-haknya terlindungi.

Share On

Other News

View All

31st March 2020

Tips to make sure your kids aren’t bored of #dirumahaja during COVID-19
Read More

31st March 2020

The Consultative Meeting in Preparation of The New United Nations Partnership Development Framework (UNPDF) for the period 2021 – 2025
Read More

31st January 2020

Sexist Teachers? The Condition of Indonesian Teachers
Read More