Apa Masalahnya Panic Buying?

Selama beberapa hari terakhir, kita banyak mendengar istilah ini terus digunakan. Apa itu panic buying? Panic buying adalah perilaku kelompok dimana konsumen membeli suatu produk dalam jumlah banyak, biasanya untuk mengantisipasi bencana. Hal ini menyebabkan ketersediaan barang menipis dan harga yang meningkat.

Sebagai akibat dari pandemik, COVID-19, kita semua sudah membaca berita atau mungkin melihat sendiri orang-orang yang bergegas ke toko dan mengosongkan semua rak.

Secara teori, perilaku semacam ini masuk akal. Masa pandemik ini memaksa kita mengubah perilaku kita, ini berarti bahwa kita harus menyesuaikan perilaku kita. Terus kenapa? Ya, masalahnya, semua orang memikirkan hal yang sama persis!

Kelangkaan bahan makan dan produk lainnya terjadi karena kita  menambahkan hanya ‘beberapa’ barang tambahan ke dalam keranjang belanjaan, membuat toko kewalahan, dan menciptakan kekacauan di antara para konsumen. Meskipun ‘beberapa’ barang yang kita masukkan ke dalam troli tampak tidak penting, nyatanya peningkatan permintaan dan keputusasaan mendorong orang lain untuk membeli lebih banyak daripada kita beli dan seterusnya.

Saya yakin sebagian besar dari kita sudah melihat foto-foto rak kosong dan video orang-orang yang antre di supermarket dengan banyak troli. Foto-foto (yang biasanya dari supermarket) ini menimbulkan kepanikan dan meyakinkan kita bahwa ada masalah dengan persediaan makanan. Orang-orang mulai membeli lebih banyak, dan lebih buruk lagi, bepergian ke toko lain untuk membeli bahan makanan mereka. Ini berdampak buruk pada banyak teman-teman yang tidak bisa membeli apapun karena ditimbun sama orang lain.

Panic buying berasal dari ketidakpastian dan kecemasan kita sendiri dari situasi yang dihadapi. Kita merasa perlu mempersiapkan diri untuk situasi yang, seringkali, belum kita pahami sepenuhnya. Kita pikir panic buying membuat perasaan lebih baik karena ada persiapan, tetapi itu sebaliknya! Ketika kita merespon kepanikan dengan berbelanja sembarangan, kita bisa tambah cemas lagi dan malahan membuat kebiasaan baru yang destruktif bagi diri sendiri dan orang disekeliling kita.

Ini menjadi masalah yang lebih besar ketika pembeli mulai menimbun kebutuhan medis yang sangat dibutuhkan oleh para profesional kesehatan. Dokter dan perawat di garis depan jauh lebih rentan dengan COVID-19 daripada kebanyakan dari kita. Akibat dari konsumen yang membeli masker N95 yang, jujur ​​saja, sebagian besar tidak akan digunakan sebagaimana mestinya, banyak rumah sakit mengalami kekosongan stok masker yang pada akhirnya menimbulkan konsekuensi yang sangat negatif. Petugas kesehatan akan berkurang, keluarga mereka akan berisiko, dan banyak pasien tidak memiliki akses ke perawatan yang layak mereka dapatkan.

Jangan lupa bahwa panic buying juga mempengaruhi mayoritas komunitas dengan sumber daya rendah; yang sehari-harinya saja sudah disulitkan dengan isu pendapatan dan transport.

Jika saya boleh menitipkan satu hal di tengah pandemi ini, ingat ini:

“Jika kamu ingin pergi cepat, pergi sendiri. Jika Anda ingin pergi jauh, pergi bersama. ”

Selama pandemi ini, saya berharap kita bisa bertahan hidup bersama sebagai komunitas atau masyarakat sehingga Indonesia dapat terus berkembang.

Penulis: Faye Simanjuntak
Penyunting: Mellysa Anastasya
Penerjemah: Faye Simanjuntak