Refleksi: 7 Tahun Perjalanan Rumah Faye

Pada awal pandemi COVID-19, Indonesia mulai melaksanakan berbagai macam protokol untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Lockdown, karantina, dan PSBB diberlakukan secara langsung setelah pengumuman kasus pertama di Jakarta. Protokol-protokol tersebut, sepenglihatan awal, mestinya bisa mengurangi terjadinya kasus perdagangan dan eksploitasi.

Namun, pelaku TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) beradaptasi dengan cepat. Para pelaku umumnya memanfaatkan situasi sosio-ekonomik yang kurang ideal untuk menjebak sasaran mereka. Selama pandemi ini, kami melihat bahwa posisi sosio-ekonomik banyak individu memburuk, dan membuat mereka semakin rentan terhadap kejahatan eksploitasi. Lebih parahnya, pandemi juga menyebabkan penurunan aksesibilitas ke fasilitas yang dapat melayani korban. Kasus eksploitasi seksual daring (online) mulai bermunculan lebih cepat dari yang bisa kami tangani, dimana pelaku pada umumnya adalah orang-orang terdekat korban. Pemerintah tidak siap untuk menangani peningkatan eksploitasi online. Organisasi nirlaba seperti kami juga kewalahan oleh angka korban yang masuk ke rumah aman. Dalam beberapa bulan terakhir, Rumah Faye telah melihat pengajuan kasus yang jauh meningkat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dengan meningkatnya jumlah kasus, telah juga terjadi peningkatan keparahan kasus. Untuk para korban yang terjebak di rumah dengan pelaku kekerasan, mayoritas mengalami peningkatan kekerasan karena perasaan tidak aman dan frustasi dari pelaku. Selain itu, kurangnya akses pelayanan kesehatan berarti bahwa banyak luka tidak dapat diobati. Tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi juga ditemukan pada anak-anak kita sebagai akibat dari pelecehan yang berkepanjangan dan tidak terputus.

Aku juga mengkhawatirkan peningkatan angka perdagangan manusia setelah COVID-19 mulai surut. Dengan tingkat pengangguran yang lebih tinggi, banyak kelompok menjadi jauh lebih rentan terhadap perdagangan dan eksploitasi. Beberapa tidak menyadari risikonya. Lainnya sadar, tetapi merasa tidak punya pilihan lain. Sejujurnya, aku hampir merasa tidak perlu untuk merayakan ulang tahun Rumah Faye  ke-7 ini. Apa yang bisa dirayakan?

Namun dalam banyak draf yang aku tulis untuk refleksi ini, aku dibawa kembali kepada anak-anak.

Saat pandemi COVID-19 mulai di Indonesia pada awal tahun ini, aku berada di Batam. Aku bangun dan beranjak dari kasur jam 6 pagi,  merapikan tempat tidur, dan berjalan ke taman kecil dimana anak-anak menanam buah-buahan dan sayuran. Di seberang taman kecil, sebuah tangan terulur ke atas, dan melambai padaku. Tangan itu milik L, yang berteriak bahwa sarapan adalah pecel lele dengan kangkung – kesukaanmu!

Dengan piringku, aku duduk di sebuah lingkaran dengan enam orang. Di sampingku duduk R, yang tanpa berkata-kata mendorong potongan rajutan setengah jadi ke pangkuanku. Nanti ku bantuin ampe selesai, Kak,  katanya. Kemudian, E keluar dari kamarnya, dengan mangkok jelek di tangannya. Eh, lihat yang ini! dia cekikikan, pasti ini buatan Kak Faye! Dia benar, itu milikku, tapi aku menggelengkan kepala dengan keras sambil anak-anak lainnya tertawa.

Banyak hal ada dan terjadi di sini. Penuh dengan kasih, tawa, cekcok, dan karakter yang susah payah aku tuangkan ke dalam huruf-huruf alfabet sederhana ini. Aku tidak bisa memberitahu kalian berapa usia mereka, siapa nama mereka, atau bahkan inisial asli mereka. Aku tidak dapat memberitahu kalian dari mana mereka berasal atau trauma yang pernah mereka alami. Bukan karena aku lupa (dalam pekerjaan ini, kami tidak pernah lupa), tetapi karena melakukan hal tersebut akan membahayakan mereka.

Di lain sisi, aku dapat bercerita tentang perkembangan. Anak-anak perempuan masuk ke rumah aman dengan hati yang begitu berat sampai aku tidak bisa mendeskripsikannya. Ada begitu banyak ketakutan, pada awalnya. Takut pada orang lain, takut mencoba, takut gagal. Ada saat-saat dimana kami merasa tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Tetapi, entah bagaimana, cahaya terus bersinar. Terkadang, itu terjadi pada hal sederhana sehari-hari – tembikar yang sudah jadi, tas rajutan yang sudah lengkap, nilai A dalam ujian matematika. Di lain waktu, terjadi secara pelan tapi pasti – pertumbuhan internal pribadi tiap anak, seiring dengan bertambahnya berat badan setelah bertahun-tahun kekurangan gizi, tawa yang semakin keras membahana dan tidak lagi tertahan-tahan.

Selama tujuh tahun terakhir, kami telah kehilangan banyak hal. Kami terluka. Aku tidak dapat membicarakannya secara mendalam sekarang, hanya bisa mengatakan bahwa aku tahu betul apa itu rasanya bekerja tanpa harapan. Namun, dalam kehilangan ini, aku juga belajar dari anak-anak tentang keberanian absolut yang ditanamkan dalam rasa kasih dan sayang. Aku telah melihat kemampuan mereka untuk terus bertumbuh, berkembang, dan bertahan ketika semua pihak di dunia seakan-akan melawan mereka.

Saat duduk di lingkaran bersama anak-anak pagi itu, aku ingat merasa sangat senang. Aku tidak tahu kenapa – padahal tidak ada yang mengatakan apa-apa, bahkan tidak ada yang melakukan sesuatu yang menghibur – tetapi suatu hal pada saat itu membuat aku merasa sangat nyaman. Karena ini adalah anak-anak yang sudah tumbuh dan berkembang, dan hati saya seakan-akan meluap dengan rasa bangga. Dengan rasa syukur.

Hari ini, Rumah Faye berusia tujuh (!!!!!!) tahun. Aku tidak pernah bermaksud mendirikan organisasi nonprofit, apalagi sampai mendirikan rumah aman. Aku hanya anak berusia 11 tahun dengan kepercayaan bahwa perubahan hanya dapat dilakukan melalui gerakan berbasis akar rumput. Sederhana saja: untuk menyelesaikan suatu masalah, masalah apapun, kelompok yang paling rentan mesti dilibatkan secara langsung. Anak-anak adalah anggota yang berkontribusi dalam kerangka perlindungan anak.

Sejak itu, kami telah memberikan 18 beasiswa, membantu pemulihan 110 anak perempuan dan perempuan dewasa, serta mendampingi persalinan lima bayi. Selama pandemi COVID-19, dengan dukungan dari semua mitra kami yang luar biasa, kami dapat membantu lebih dari 1000 keluarga di komunitas dan warga sekitarnya.

Ada begitu banyak orang yang kuanggap mendorong Rumah Faye untuk menjadi seperti ini, tetapi yang terpenting  adalah timku, dari 2013 sampai sekarang. Mbak Dewi, Kak Tika, Kak Lina, Kak Rista, Kak Tiwi, Kak Irna, Pak Nanang, Mbak Nur, Pak Cipri, Bu Siti, Bude, Kak Tasya, Mbak Retno, dan Kak Imam – terima kasih. Untuk tim di rumah aman, yang tanpa lelah bekerja dengan anak-anak, aku berterima kasih kepada Tuhan setiap hari untuk dedikasi kalian. Untuk tim di Jakarta, yang selalu berupaya melakukan yang terbaik untuk mitra komunitas, aku berterima kasih sebanyak-banyaknya. Kepada para Sahabat Faye, terima kasih yang tulus untuk dedikasi kakak-kakak kepada isu yang kita perjuangkan. Terlepas dari beban berat yang tim hadapi, kalian terus menjadi inspirasiku untuk bekerja keras. Tidak kalah penting, untuk keluarga yang selalu mendukung Rumah Faye- terima kasih. Terutama Mama, yang selalu percaya padaku dan selalu menginspirasi.

Tujuh tahun sudah berlalu. Aku meresapi setiap tahun yang kami lewati – saat menghadapi kesulitan demi kesulitan, saat menerima kehilangan demi kehilangan. Karena itu semua, aku juga merasakan apresiasi yang tak terukur untuk orang-orang di sampingku. Mereka yang mengajariku caranya untuk selalu berani.

Saat ini, hari jadi yang ke tujuh terasa sulit untuk dirayakan, tetapi aku harus menyambutnya seperti yang diajarkan anak-anak kepadaku: dengan keberanian yang dibalut dalam rasa kasih dan sayang.

Salam Hangat,

Faye Simanjuntak
Pendiri Rumah Faye