Cerita Relawan: Mellisa Rolys Purba

Saya Mellisa Rolys Purba. Ini kisah saya. Dimana tidak ada kata menyesal dalam perjalanan menjadi seorang relawan. Panggil saja saya Melli. Usia 23 tahun dan sedang melanjutkan pendidikan jenjang Magister Hukum di Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Masa pandemik COVID-19 menjadi keresahan bagi banyak orang. Menanti hal-hal yang tidak pasti, menunggu tanpa sadar sudah memasuki ujung tahun. Namun, di masa ini ada juga yang saya syukuri. Bisa berada di Batam, kembali bersama keluarga, dan melangsungkan pendidikan via daring. Siapa sangka hal ini bisa membawa saya hingga menjadi staf magang sekaligus relawan di Rumah Faye?

Semua berawal dari ketertarikan terhadap perlindungan anak dan perempuan. Saya pribadi kerap mengalami diskriminasi dalam lingkungan sehari-hari. Hal-hal inilah yang terus mendorong saya untuk belajar dan mencari cara bagaimana dapat berkontribusi lebih. Tidak hanya berkoar-koar, namun melakukan satu aksi. Awal tahun 2020, saya adalah fresh graduate dari Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan. Kemudian kembali ke kota kelahiran, Batam. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi relawan. Saya teringat, suatu hari sedang membaca sebuah artikel dan menyebutkan nama Rumah Faye. Lalu, saya cari tahu tentang apa itu Rumah Faye dan mendapati bahwa ada rumah aman di Batam. Pada awalnya, saya mendaftar untuk posisi relawan, kemudian pandemi datang dan menjadi sulit untuk melakukan aktivitas di luar. Bulan September 2020, saya coba lagi mendaftar, namun untuk posisi staf magang. Di sinilah perjalanan saya berkontribusi langsung dalam perlindungan perempuan dan anak bermula.

Sesuai dengan program Rumah Faye yaitu, Pemulihan, Pembebasan, dan Pencegahan, kerja relawan meliputi tiga hal tersebut. Saya pernah mengikuti proses pendampingan korban di kepolisian. Ini jadi sangat menarik bagi saya yang punya latar belakang pendidikan di dunia hukum. Namun, kegiatan yang paling disuka adalah ketika belajar-mengajar untuk membantu program pemulihan para korban di rumah aman. Biasanya saya mengajar mata pelajaran favorit ketika sekolah dulu. Dengan metode bercerita, adik-adik jadi lebih mudah mengerti. Antusiasme mereka akan materi yang diajarkan adalah hal yang menyenangkan. Apalagi ketika pelajaran musik. Saya mengenalkan bagaimana cara bermain gitar kepada mereka. Awalnya ada rasa ragu apakah adik-adik akan suka atau tidak. Ternyata, mereka sangat tertarik! Sampai seringkali berebut untuk dapat diajarkan bermain gitar.

Saya juga suka mengajak mereka untuk menggambar sembari mendengarkan musik. Hal ini menjadi salah satu proses healing mereka. Lewat menggambar, saya ajak mereka untuk bercerita tentang mimpi di masa depan. Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa mimpi besarlah yang membawa diri bisa berada di titik kehidupan saat ini. Maka, saya bagikan arti cita-cita, mimpi, dan masa depan kepada mereka. Bahwa hal-hal itu mampu memberi kekuatan untuk kita mau terus berjuang agar dapat meraih mimpi.

Terjun langsung menjadi relawan Rumah Faye adalah hal yang tidak akan pernah saya sesali. Justru saya sangat bersyukur dan berterimakasih pada diri sendiri yang sudah berani untuk melakukan aksi nyata dalam perlindungan anak dan perempuan. Tidak semudah tulisan-tulisan yang saya baca selama ini, tapi kenyataannya lebih menyenangkan dari semua itu. Bertemu, berdialog, dan bersama para korban membuat saya makin menyadari bahwa mereka butuh kita. Walau hanya sekedar menemani bermain, menemani belajar, menjadi pendengar, dan menjadi penghibur mereka, para korban butuh kita untuk berkontribusi langsung menjadi pembela hak asasi anak dan perempuan.

Kerelawanan mengajari saya sedikit demi sedikit untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang tidak hanya punya kehendak namun juga rasa. Menjadi manusia yang lebih peka, lebih berempati, dan paling penting yaitu memiliki keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Pada Hari Relawan Internasional ini, saya mau mengajak teman-teman semua untuk mulai melakukan sesuatu. Tidak hanya diam, atau malah berkoar-koar tapi tanpa aksi nyata. Sekarang adalah waktunya. Kalau bukan kita, siapa lagi?

SELAMAT HARI RELAWAN INTERNASIONAL !!!

Penulis: Mellisa Rolys Purba
Penyunting: Mellysa Anastasya
Penerjemah: Faye Simanjuntak