Cerita Relawan: Ida Salina Juli Cristina Yustika Beru Ginting

(Ditulis pada bulan Desember 2020)

Nama saya Sali. Seorang lulusan jurusan seni tahun 2017 dari salah satu universitas di Bandung dan saat ini berdomisili di Batam. Sedari kecil, saya sudah diajarkan pentingnya berbagi dengan sesama, dari lingkup terkecil yaitu rumah, lingkungan sekitar, hingga sekolah. Sesederhana memberikan baju bekas yang masih layak pakai kepada korban kebakaran. Menurut saya itu adalah langkah mudah bagi siapapun untuk belajar berbagi.

Ketika lulus SMP, saya memilih melanjutkan studi saya di SMK dan bergabung dengan tim Paskibra sekolah. Saat itu, setiap tahunnya akan diadakan kegiatan bakti sosial oleh pelatih kami. Ketika mengikuti kegiatan bakti sosial itulah, saya merasakan ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat senyum di wajah orang yang menerima bantuan tersebut. Sejak saat itu, saya sering mencari info tentang dunia relawan. Ketika lulus kuliah, salah satu lembaga pemasyarakatan di Bandung membuka program relawan dan itulah pertama kalinya saya mencoba mandiri mendaftar sebagai relawan. Namun karena terbentur satu dan lain hal yang membuat saya harus pindah ke luar kota, akhirnya kesempatan tersebut saya lepaskan.

Pertama kali mendengar Rumah Faye sejak tahun 2019 dan bergabung di bulan Agustus, saya sesekali mengikuti sharing session yang tim Rumah Faye adakan karena kegiatan tatap muka belum bisa kami lakukan akibat terhalang pandemic COVID-19. Akhirnya pada November 2020, saya dapat berkontribusi langsung dengan cara bergabung menjadi staf magang di Rumah Faye dan mengajar di rumah aman. Beberapa kegiatan yang saya lakukan yaitu mengajarkan tentang keterampilan, Bahasa Inggris, dan Matematika dasar. Pada awalnya saya merasa takut, jikalau apa yang saya ajarkan kurang dapat menarik minat anak-anak disana. Namun sama halnya seperti mengajar di sekolah, ada beragam sifat anak yang dihadapi dan itu menjadi tantangan tersendiri. Terkadang saya memberikan games-games kecil untuk membantu mereka mengasah nalar dan kemampuan mereka dalam memecahkan masalah. Seperti anak pada umumnya, mereka sangat bersemangat ketika memasuki mata pelajaran keterampilan, karena disitu mereka dapat bebas mengeluarkan ide-ide kreatif yang mereka miliki. Bahkan tidak jarang sayalah yang mereka ajarkan terkait beberapa hal yang sudah lebih dahulu mereka ketahui, contohnya seperti cara menanam dengan metode hidroponik.

Selama menjalani kegiatan sebagai relawan, banyak hal baru yang saya dapatkan, terutama dalam hal keikhlasan, kesabaran, dan mensyukuri berkat yang selama ini saya terima. Selain itu, menjadi relawan yang bertugas untuk membantu korban kekerasan -terutama anak-anak- memberikan banyak pemahaman tentang karakteristik dan sifat-sifat anak yang sangat berguna untuk bekal di masa mendatang. Mari buka mata dan telinga. Ada banyak kasus kekerasan yang terjadi sekitar kita. Terkadang, kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri sampai kita lupa bahwa kita adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain. Relawan bukan hanya sekedar memberikan bantuan materil. Lebih dari itu, relawan mencurahkan seluruh hati dan pikirannya hanya untuk satu tujuan yaitu melihat korban dapat bangkit dan menjadi manusia baru. Karena senyuman dan kepercayaan diri yang kembali diraih oleh korban adalah suatu hal yang tidak akan bisa dibeli dengan sebanyak apapun materi.

Selamat Hari Relawan Internasional. Ayo, jadi relawan!

Penulis: Ida Salina Juli Cristina Yustika Beru Ginting
Penyunting: Mellysa Anastasya
Penerjemah: Faye Simanjuntak

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp